
Di era digital yang serba terhubung ini, media sosial telah menjadi panggung besar tempat kita berbagi, berinteraksi, dan sering kali, membandingkan diri. Dua fenomena yang kian merajalela adalah “flexing” dan “FOMO” (Fear Of Missing Out). Keduanya, secara halus namun pasti, dapat mengikis kesejahteraan mental jika tidak dikelola dengan bijak. Artikel ini akan menyelami lebih dalam tentang flexing, FOMO, serta bagaimana dampaknya terhadap kesehatan mental kita, lengkap dengan strategi untuk menghadapinya.
Â
Apa Itu Flexing dan Mengapa Orang Melakukannya?
Istilah “flexing” merujuk pada tindakan memamerkan atau menunjukkan kekayaan, pencapaian, gaya hidup mewah, atau kebahagiaan yang sempurna di media sosial. Ini bisa berupa unggahan foto liburan eksotis, tas desainer terbaru, makan malam mewah, pekerjaan impian, atau bahkan hubungan yang tampak tanpa cela. Intinya, flexing adalah tentang menampilkan versi terbaik—atau sering kali, versi yang dilebih-lebihkan—dari diri sendiri untuk dilihat oleh publik.
Mengapa orang melakukan flexing? Beberapa alasan utamanya meliputi:
- Pencarian Validasi dan Pengakuan: Di dunia yang didorong oleh “likes” dan komentar, flexing menjadi cara untuk mendapatkan validasi dari orang lain, meningkatkan harga diri, dan merasa diterima secara sosial.
- Perbandingan Sosial: Secara tidak sadar, orang sering kali ingin menunjukkan bahwa mereka tidak kalah dari orang lain, atau bahkan lebih baik. Ini adalah respons terhadap teori perbandingan sosial, di mana individu menilai nilai dan status mereka dengan membandingkan diri dengan orang lain.
- Membangun Citra Diri: Bagi sebagian orang, flexing adalah strategi untuk membangun citra diri yang diinginkan, baik untuk tujuan pribadi, profesional, atau bahkan branding.
- Kecemburuan atau Insecuritas: Ironisnya, flexing juga bisa muncul dari rasa tidak aman. Seseorang mungkin merasa perlu untuk memamerkan sesuatu untuk menutupi kekurangan atau keraguan yang mereka rasakan.
Â
FOMO: Ketika Kecemburuan Digital Menggerogoti
Di sisi lain spektrum, ada FOMO, atau Fear Of Missing Out. Ini adalah perasaan cemas atau khawatir bahwa orang lain sedang mengalami pengalaman yang menyenangkan, menarik, atau bermanfaat yang Anda lewatkan. Media sosial adalah katalisator utama bagi FOMO, karena ia terus-menerus menampilkan “highlight reel” kehidupan orang lain. Saat melihat unggahan flexing teman atau influencer yang sedang berlibur, menghadiri pesta, atau menikmati momen bahagia, FOMO bisa langsung menyerang.
Dampak FOMO dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk:
- Kecemasan dan Stres: Rasa terus-menerus khawatir ketinggalan sesuatu dapat memicu tingkat kecemasan yang tinggi dan stres kronis.
- Rasa Tidak Cukup: Melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna dapat membuat kita merasa tidak mampu, tidak puas dengan hidup sendiri, atau merasa ada yang kurang.
- Penurunan Suasana Hati: FOMO dapat menyebabkan kesedihan, frustrasi, dan bahkan depresi karena perasaan terisolasi atau ditinggalkan.
- Dorongan untuk Berpartisipasi Berlebihan: Kadang-kadang, FOMO mendorong individu untuk menerima setiap undangan atau terlibat dalam setiap aktivitas, meskipun bertentangan dengan keinginan atau kebutuhan mereka, hanya untuk menghindari perasaan ketinggalan.
Studi telah menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens, terutama dengan fokus pada perbandingan sosial, secara signifikan berkorelasi dengan tingkat FOMO yang lebih tinggi dan dampak negatif pada kesejahteraan emosional. Psychology Today menyebutkan bahwa FOMO bisa menjadi lingkaran setan, di mana kecemasan memicu penggunaan media sosial yang lebih intens, yang pada gilirannya memperparah FOMO.
Â
Dampak Buruk Flexing dan FOMO pada Kesehatan Mental
Ketika flexing dan FOMO berinteraksi, dampaknya terhadap kesehatan mental bisa menjadi kompleks dan merugikan:
- Penurunan Harga Diri dan Citra Diri: Terus-menerus membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis di media sosial dapat merusak harga diri. Baik Anda yang flexing (mencari validasi eksternal yang tidak pernah cukup) atau yang terpapar flexing (merasa tidak cukup), kedua sisi dapat mengalami penurunan kepercayaan diri.
- Peningkatan Kecemasan dan Depresi: Beban untuk terus menampilkan kesempurnaan atau rasa tidak berharga karena “ketinggalan” dapat menjadi pemicu kuat untuk gangguan kecemasan dan depresi. Mayo Clinic mencatat bahwa perbandingan sosial di media sosial dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental, terutama pada populasi rentan.
- Gangguan Tidur: Waktu layar yang berlebihan, kekhawatiran tentang unggahan, atau FOMO yang membuat Anda terus-menerus memeriksa ponsel dapat mengganggu siklus tidur.
- Isolasi Sosial yang Paradoxical: Meskipun media sosial dimaksudkan untuk menghubungkan, fokus pada flexing dan FOMO dapat membuat seseorang merasa lebih terisolasi, karena interaksi menjadi dangkal dan didasarkan pada penampilan, bukan hubungan yang autentik.
- Tekanan Finansial: Upaya untuk “mengejar” gaya hidup yang dipamerkan di media sosial dapat menyebabkan pengeluaran berlebihan dan tekanan finansial yang tidak perlu.
Â
Strategi Mengelola Flexing dan Mengatasi FOMO
Mengatasi dampak negatif flexing dan FOMO memerlukan pendekatan yang sadar dan proaktif:
Untuk Flexing (Sebagai Pengguna Media Sosial):
- Sadar Diri: Tanyakan pada diri sendiri mengapa Anda ingin mengunggah sesuatu. Apakah untuk berbagi momen autentik atau mencari validasi?
- Prioritaskan Autentisitas: Fokuslah untuk membagikan pengalaman yang tulus dan jujur, bukan yang direkayasa demi kesan.
- Kurangi Ketergantungan pada Validasi Eksternal: Pahami bahwa harga diri sejati berasal dari dalam, bukan dari jumlah likes atau komentar.
Untuk FOMO (Sebagai Konsumen Media Sosial):
- Batasi Waktu Layar: Tentukan batas waktu harian untuk penggunaan media sosial. Gunakan fitur batasan aplikasi di ponsel Anda.
- Kurasi Feed Anda: Jangan ragu untuk berhenti mengikuti (unfollow) atau membisukan (mute) akun-akun yang secara konsisten memicu perasaan tidak enak pada Anda.
- Praktikkan Rasa Syukur: Fokus pada apa yang sudah Anda miliki dan nikmati dalam hidup Anda. Membuat jurnal syukur dapat sangat membantu.
- Ingat “Highlight Reel”: Selalu ingatkan diri bahwa media sosial adalah kumpulan momen terbaik yang dipilih dengan cermat, bukan representasi lengkap dari kehidupan seseorang. Di balik setiap unggahan sempurna, ada perjuangan dan realitas yang tidak ditunjukkan.
- Fokus pada Dunia Nyata: Alihkan energi Anda ke hobi, kegiatan, dan hubungan di dunia nyata. Investasikan waktu untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang terkasih.
- Cari Bantuan Profesional: Jika FOMO atau penggunaan media sosial mulai mengganggu fungsi sehari-hari Anda dan menyebabkan stres yang signifikan, jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog atau terapis.
Â
Kesimpulan
Flexing dan FOMO adalah dua sisi mata uang yang sama di era digital, yang secara signifikan dapat memengaruhi kesehatan mental kita. Meskipun media sosial menawarkan banyak manfaat, penting bagi kita untuk menggunakannya dengan kesadaran penuh dan bertanggung jawab. Dengan memahami mekanisme di balik fenomena ini dan menerapkan strategi manajemen yang tepat, kita dapat melindungi kesejahteraan mental kita, berfokus pada kehidupan yang autentik, dan menemukan kebahagiaan di luar layar.