Politeknik Penerbangan Palembang

Kisah Lahirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa: Dari Perang Menuju Perdamaian

Dunia telah menyaksikan dua perang global yang menghancurkan di paruh pertama abad ke-20. Jutaan nyawa melayang, kota-kota rata dengan tanah, dan tatanan sosial porak-poranda. Dari reruntuhan Perang Dunia II, muncul sebuah kebutuhan mendesak akan mekanisme global yang mampu mencegah terulangnya tragedi serupa. Kebutuhan inilah yang melahirkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebuah organisasi yang didedikasikan untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional, mempromosikan kerja sama, serta melindungi hak asasi manusia.

Kisah lahirnya PBB bukan sekadar tentang penandatanganan sebuah dokumen. Ini adalah narasi kompleks tentang idealisme, negosiasi sulit, kompromi politik, dan keinginan kuat umat manusia untuk membangun masa depan yang lebih baik. Bagaimana organisasi sebesar PBB bisa terbentuk dari kekacauan global? Mari kita telusuri langkah demi langkah.

 

Akar Ide: Kegagalan Liga Bangsa-Bangsa dan Atlantic Charter

Gagasan tentang organisasi internasional untuk menjaga perdamaian sebenarnya bukan hal baru. Setelah Perang Dunia I, Liga Bangsa-Bangsa (LBB) dibentuk dengan tujuan serupa. Namun, LBB terbukti gagal mencegah agresi oleh kekuatan-kekuatan poros dan pecahnya Perang Dunia II. Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga: organisasi pengganti harus lebih kuat, lebih inklusif, dan memiliki mekanisme penegakan yang lebih efektif.

Liga Bangsa-Bangsa: Sebuah Pelajaran Berharga

Liga Bangsa-Bangsa, yang didirikan pada tahun 1920, memiliki tujuan mulia untuk mempromosikan kerja sama internasional dan mencapai perdamaian serta keamanan. Namun, Liga ini memiliki kelemahan struktural, termasuk kurangnya partisipasi negara-negara besar seperti Amerika Serikat, dan tidak memiliki kekuatan militer sendiri untuk menegakkan keputusannya. Ketika kekuatan agresor seperti Jepang, Italia, dan Jerman mulai melanggar hukum internasional pada tahun 1930-an, Liga tidak berdaya, dan ini menjadi prekursor langsung menuju Perang Dunia II.

Piagam Atlantik: Benih Harapan

Pada bulan Agustus 1941, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, Presiden AS Franklin D. Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill bertemu di atas kapal perang di Samudra Atlantik. Mereka menyusun apa yang dikenal sebagai Piagam Atlantik, sebuah deklarasi bersama yang menguraikan visi mereka untuk dunia pasca-perang. Piagam ini menyerukan prinsip-prinsip seperti tidak adanya akuisisi wilayah, hak setiap bangsa untuk memilih bentuk pemerintahannya sendiri (penentuan nasib sendiri), kerja sama ekonomi global, kebebasan dari rasa takut dan kekurangan, kebebasan laut, dan perlucutan senjata. Meskipun belum secara eksplisit menyebutkan “PBB”, Piagam Atlantik meletakkan dasar filosofis bagi tatanan dunia baru yang damai dan terorganisir.

 

Langkah Menuju Pembentukan: Konferensi-Konferensi Kunci

Pembentukan PBB adalah hasil dari serangkaian konferensi dan negosiasi yang panjang di antara negara-negara sekutu selama Perang Dunia II. Setiap pertemuan memainkan peran penting dalam membentuk struktur dan tujuan organisasi masa depan.

Deklarasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (1942)

Istilah “Perserikatan Bangsa-Bangsa” itu sendiri pertama kali digunakan oleh Presiden Roosevelt. Pada tanggal 1 Januari 1942, perwakilan dari 26 negara yang berperang melawan kekuatan Poros (Jerman, Italia, Jepang) bertemu di Washington D.C. dan menandatangani “Deklarasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa”. Dokumen ini menegaskan kembali prinsip-prinsip Piagam Atlantik dan berkomitmen untuk bekerja sama melawan musuh bersama. Ini adalah momen formal pertama di mana visi untuk organisasi global masa depan mulai mengkristal dengan sebuah nama.

Deklarasi Moskow (1943)

Pada bulan Oktober 1943, para menteri luar negeri Amerika Serikat, Inggris, Uni Soviet, dan Duta Besar Tiongkok untuk Uni Soviet bertemu di Moskow. Mereka menandatangani Deklarasi Empat Negara tentang Keamanan Umum. Deklarasi ini secara eksplisit mengakui “perlunya mendirikan secepat mungkin sebuah organisasi internasional umum, berdasarkan prinsip kesetaraan kedaulatan semua negara cinta damai, dan terbuka untuk keanggotaan semua negara tersebut, besar dan kecil, untuk pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional.” Ini adalah komitmen formal pertama oleh kekuatan-kekuatan besar untuk menciptakan PBB.

Konferensi Dumbarton Oaks (1944)

Dari bulan Agustus hingga Oktober 1944, perwakilan dari AS, Inggris, Uni Soviet, dan Tiongkok bertemu di Dumbarton Oaks, Washington D.C. Dalam konferensi ini, kerangka dasar PBB dibentuk. Mereka menyusun proposal untuk Piagam PBB yang mencakup struktur organisasi, tujuan, dan mekanisme kerjanya. Proposal ini mengusulkan pembentukan Dewan Keamanan, Majelis Umum, Sekretariat, dan Mahkamah Internasional, serta badan-badan ekonomi dan sosial. Meskipun beberapa isu kunci, seperti hak veto di Dewan Keamanan, masih belum terselesaikan, kerangka dasar PBB sebagian besar telah disepakati.

Konferensi Yalta (1945)

Pada bulan Februari 1945, Roosevelt, Churchill, dan Stalin (pemimpin AS, Inggris, dan Uni Soviet) bertemu di Yalta. Salah satu isu paling krusial yang dibahas adalah mekanisme pengambilan keputusan di Dewan Keamanan PBB yang diusulkan, khususnya mengenai hak veto. Setelah negosiasi yang intens, disepakati bahwa lima anggota tetap Dewan Keamanan (AS, Inggris, Uni Soviet, Tiongkok, dan Prancis) akan memiliki hak veto, yang berarti setiap keputusan substansial membutuhkan persetujuan dari kelimanya. Kompromi ini penting untuk memastikan partisipasi Uni Soviet dan negara-negara besar lainnya, meskipun kemudian menjadi sumber kritik.

 

Puncak Sejarah: Konferensi San Francisco dan Piagam PBB

Pertemuan Para Bangsa

Dengan berakhirnya Perang Dunia II di Eropa, panggung pun siap untuk pertemuan puncak yang akan melahirkan PBB secara resmi. Pada tanggal 25 April 1945, perwakilan dari 50 negara berkumpul di San Francisco, Amerika Serikat, untuk Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Organisasi Internasional. Konferensi ini berlangsung selama dua bulan, dipenuhi dengan debat, amandemen, dan negosiasi intensif terhadap proposal yang telah disusun di Dumbarton Oaks.

Para delegasi menghadapi tugas monumental: menyusun sebuah dokumen yang akan menyeimbangkan kedaulatan negara dengan kebutuhan akan tindakan kolektif, serta mengakomodasi kepentingan negara-negara besar dan kecil. Ribuan usulan amandemen diajukan dan dibahas secara cermat, mencerminkan keragaman pandangan dan kepentingan global.

Penandatanganan Piagam PBB

Akhirnya, pada tanggal 26 Juni 1945, di Gedung Opera War Memorial Veterans di San Francisco, perwakilan dari 50 negara menandatangani Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Polandia, yang tidak hadir pada konferensi tersebut, kemudian menandatangani Piagam tersebut dan menjadi anggota ke-51 pendiri.

Piagam PBB adalah dokumen pendirian yang menetapkan hak dan kewajiban negara-negara anggota dan membentuk organ serta prosedur PBB. Ini adalah perjanjian internasional yang mengikat, menjadi dasar hukum bagi hubungan internasional pasca-perang dan menjadi piagam konstitusional organisasi global.

 

Lahirnya Secara Resmi: Hari PBB

Piagam PBB tidak langsung berlaku setelah ditandatangani. Ia harus diratifikasi oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan (Tiongkok, Prancis, Uni Soviet, Inggris Raya, dan Amerika Serikat) dan mayoritas negara penandatangan lainnya. Proses ratifikasi ini memakan waktu beberapa bulan.

Pada tanggal 24 Oktober 1945, setelah sebagian besar negara anggota, termasuk kelima anggota tetap Dewan Keamanan, telah meratifikasi Piagam tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi lahir. Tanggal ini kini diperingati setiap tahun sebagai Hari PBB, menandai dimulainya era baru dalam diplomasi dan kerja sama internasional.

 

Visi dan Misi Awal PBB

PBB didirikan dengan tujuan-tujuan yang jelas, sebagaimana tercantum dalam Piagamnya:

  • Menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
  • Mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa berdasarkan penghormatan terhadap prinsip persamaan hak dan penentuan nasib sendiri.
  • Mencapai kerja sama internasional dalam memecahkan masalah-masalah internasional yang bersifat ekonomi, sosial, budaya, atau kemanusiaan, serta dalam memajukan dan mendorong penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan fundamental untuk semua tanpa perbedaan.
  • Menjadi pusat untuk mengharmoniskan tindakan bangsa-bangsa dalam mencapai tujuan-tujuan bersama ini.

 

Kesimpulan

Kisah lahirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah bukti nyata kemampuan umat manusia untuk belajar dari kesalahan masa lalu dan membangun struktur untuk masa depan yang lebih damai. Dari kepahitan kegagalan Liga Bangsa-Bangsa dan kengerian Perang Dunia II, para pemimpin dunia bersatu untuk menciptakan sebuah forum global yang bertujuan untuk mencegah konflik, mempromosikan kerja sama, dan menegakkan martabat manusia.

Sejak kelahirannya pada tahun 1945, PBB telah menghadapi berbagai tantangan dan kritik. Namun, visinya untuk dunia yang bersatu dalam perdamaian dan kerja sama tetap relevan hingga hari ini, menjadikannya pilar penting dalam tatanan internasional. Kelahiran PBB adalah momen krusial dalam sejarah modern, menandai komitmen global untuk mengatasi masalah bersama melalui dialog dan tindakan kolektif, daripada melalui konflik yang merusak.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
x  Powerful Protection for WordPress, from Shield Security
This Site Is Protected By
Shield Security