Keadaan darurat di bandar udara tidak pernah datang dengan aba-aba. Dalam hitungan detik, personel dituntut mampu memahami situasi, berkomunikasi, berkoordinasi, dan mengambil keputusan yang tepat. Karena itu, latihan bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian penting untuk memastikan setiap personel benar-benar siap ketika situasi darurat terjadi.

Semangat inilah yang melatarbelakangi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Penerbangan Palembang melalui Bimbingan Teknis Pemanfaatan Platform ESCAPE (Electronic Scenario Based Airport Emergency Exercise). Kegiatan dilaksanakan pada 24 Agustus 2026 di Gedung Program Studi Penyelamatan dan Pemadam Kebakaran (PPKP), dengan melibatkan 20 peserta dan 6 dosen.
Berbeda dari latihan yang hanya berorientasi pada penyampaian teori, kegiatan ini mengajak peserta mengenal bagaimana teknologi digital dapat digunakan untuk menghadirkan simulasi keadaan darurat yang lebih interaktif dan aplikatif. Melalui platform ESCAPE, peserta diarahkan untuk memahami skenario keadaan darurat sekaligus melatih kemampuan dalam merespons situasi, berkoordinasi dengan pihak terkait, berkomunikasi secara efektif, serta menentukan langkah yang tepat.
Proses pembelajaran dilakukan secara partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi, demonstrasi, hingga praktik simulasi berbasis skenario. Peserta tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi turut terlibat dalam proses latihan sehingga dapat memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan dinamika penanganan keadaan darurat. Pendekatan ini dirancang untuk menjembatani pemahaman teori dengan kebutuhan keterampilan praktis di lingkungan operasional bandar udara.

Pemanfaatan ESCAPE juga menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi digital dalam pelatihan keselamatan penerbangan. Platform ini dikembangkan untuk mendukung simulasi berbasis skenario, integrasi antarpihak, serta pemantauan jalannya latihan secara lebih interaktif. Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami prosedur, tetapi juga semakin terbiasa menghadapi dinamika situasi darurat yang membutuhkan respons cepat dan keputusan yang tepat.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Hal yang paling menentukan tetaplah kesiapan manusia yang menggunakannya. Melalui kegiatan ini, Politeknik Penerbangan Palembang berupaya memperkuat kompetensi dan kesiapsiagaan personel bandar udara agar mampu menghadapi keadaan darurat dengan lebih terkoordinasi, responsif, dan profesional. Sebab dalam keselamatan penerbangan, ketika keadaan darurat terjadi, kesiapan bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.
